ETIKA SANTRI

ETIKA SANTRI

Pendahuluan

Salah satu tradisi agung (“great tradition”) di Indonesia adalah tradisi
pengajaran agama Islam seperti yang muncul di pesantren Jawa dan lembagalembaga
serupa di luar Jawa serta semenanjung Malaya. Alasan pokok munculnya
pesantren ini adalah mentransmisikan Islam tradisional sebagaimana yang terdapat
dalam kitab-kitab klasik yang ditulis beberapa abad yang lalu.1
Meski demikian, pesantren bukanlah satu-atunya lembaga pendidikan Islam.
Tradisi yang muncul di dalamnya hanyalah satu dari beberapa aliran Islam Indonesia
masa kini. Aliran-aliran modernis, reformis dan fundamentalis adalah beberapa
contoh yang membawa tradisinya sendiri. Akan tetapi Unsur-unsur kunci Islam
tradisional adalah lembaga pesantren sendiri, peranan dan kepribadian kiai yang
sangat menentukan dan kharismatik-kharismatik sebagaimana dalam pengertian
Weberian.
Pesantren adalah sebuah kehidupan yang unik, sebagaimana dapat
disimpulkan dari gambaran lahiriahnya. Pesantren adalah sebuah kompleks dengan
lokasi yang umumnya terpisah dari kehidupan di sekitarnya. Dalam kompleks itu
berdiri beberapa buah bangunan: rumah kediaman pengasuh (didaerah berbahasa
Jawa disebut kiai, di daerah berbahasa Sunda anjengan, dan di daerah berbahasa
Madura nun atau bendara disingkat ra); sebuah surau atau masjid, tempat
pengajaran diberikan (bahasa Arab madrasah, yang juga terlebih sering
mengandung konotasi sekolah); dan asrama tempat tinggal para siswa pesantren
(santri). Dalam konteks ini perlu dikaji sejauhmana nilai-nilai dibeberapa tradisi
yang berkembang di pesantren yang terkait dengan etika santri di pesantren untuk
diaktualkan dalam masyarakat.

Pesantren Sebagai Subkultur

Tidak ada suatu pola tertentu yang diikuti dalam pembinaan fisik sebuah
pesantren, sehingga dapatlah dikatakan penambahan bangunan dalam
lingkungannya seringkali mengambil bentuk improvisasi sekenanya belaka. Faktor
kesehatan dan kesegaran jasmani, kalaupun ada juga dipikirkan, sering kaIi hanya
pada pengertiannya yang esensial belaka. Pada tahun-tahun belakangan ini
memang sering dilakukan usaha untuk menciptakan lingkungan fisik yang lebih baik,
tetapi acap kali usaha itu sukar dapat disesuaikan dengan situasi tempat yang
memang semula digarap secara serampangan.
Dalam lingkungan fisik yang demikian ini, diciptakan semacam cara
kehidupan yang memiiki sifat dan ciri tersendiri, dimulai dengan jadwal kegiatan
yang memang menyimpang dari pengertian rutin kegiatan masyarakat sekitarnya.
Pertama-tama, kegiatan di pesantren berputar pada pembagian periode
berdasarkan waktu sembahyang wajib yang lima (shalat rawatib).
Dengan sendirinya, pengertian waktu pagi, siang, dan sore di pesantren
akan menjadi berlainan dengan pengertian di luarnya. Dalam rangka inilah,
umpamanya, sering dijumpai para santri yang menanak nasi di tengah malam buta
atau yang mencuci pakaiannya menjelang terbenamnya matahari atau bahkan
setelah waktu maghrib. Dimensi waktu yang unik ini tercipta karena kegiatan pokok
pesantren dipusatkan pada pemberian pengajian buku-buku teks (al-kutub almuktabarah)
pada tiap-tiap habis menjalani sembahyang wajib.
Semua kegiatan lain harus tunduk pada dan disesuaikan dengan pembagian
waktu pengajian; demikian pula ukuran lamanya waktu yang dipergunakan seharihari:
pelajaran pada waktu tengah hari dan malam tentu saja lebih panjang
masanya dari pada di waktu petang dan subuh. Dimensi waktu yang bercorak
tersendiri ini juga terlihat pada lamanya masa belajar pesantren selama seorang
santri merasa masih memerlukan bimbingan pengajian dari kiainya, selama itu pula
ia tidak merasakan adanya keharusan menyelesaikan masa belajarnya di pesantren.
Dengan demikian, sebenarnya tidak terdapat ukuran tertentu mengena lamanya
masa belajar di pesantren karena penentuannya diserahkan kepada santri sendiri,
sehingga sering kali ukuran satu-satunya yang dipergunakan adalah biaya yang
tersedia atau panggilan orang tua untuk menikah dan berumah tangga. Atas dasar
inilah antara lain Gus dur mengidentifikasi bahwa pesantren sebagai subkultur.

Nilai-nilai yang Berkembang di Pesantren

a. Sikap Hormat dan Ta’dzim
Sikap horrnat, ta’dzim dan kepatuhan mutlak kepada kiai adalah salah satu
nilai pertama yang ditanamkan pada setiap santri. Kepatuhan itu diperluas lagi,
sehingga mencakup penghormatan kepada para ulama sebelumnya dan ulama yang
mengarang kitab-kitab yang dipelajari. Kepatuhan ini, bagi pengamat luar, tampak
Iebih penting daripada usaha menguasai ilmu; tetapi bagi kiai hal itu merupakan
bagian integral dari ilmu yang akan dikuasai. Hasyim Asy’ari, foicndingfathe rNU,
dikenal sangat mengagumi tafsir Muhammad `Abduh, namun ia tidak suka santrinya
membaca kitab tafsir tersebut. Keberatannya bukan terhadap rasionalisme `Abduh,
tetapi ejekan yang ditunjukkannya terhadap ulama tradisional.3
Nilai-nilai etika/moral lain yang ditekankan di pesantren meliputi;
persaudaraan Islam, keikhlasan, kesederhanaan, dan kemandirian. Di samping
itu, pesantren juga menanamkan kepada santrinya kesalehan dan komitmen atas
lima rukun Islam: syahadat (keimanan), salat (ibadah lima kali sehari), zakat
(pemberian), puasa (selama bulan Ramadan), dan haji (ziarah ke Mekkah bagi
yang mampu).
Guru-guru pesantren menekankan kepada santrinya agama dan moralitas.
Pendidikan etika/moral dalam pengertian sikap yang baik perlu pengalaman
sehingga pesantren berusaha untuk menciptakan lingkungan tempat moral
keagamaan dapat dipelajari dan dapat pula dipraktikkan. Biasanya, para santri
mempelajari moralitas saat mengaji dan kemudian diberi kesempatan untuk
mempraktikkannya di sela-sela aktivitasnya di pesantren.

b. Persaudaraan
Sebagai contoh, sholat lima kali sehari adalah kewajiban dalam Islam,
tetapi kadang belum menekankan pada pentingnya berjemaah. Bagaimanapun,
berjemaah dianggap sebagai cara yang lebih baik dalam sholat dan pada
umumnya diwajibkan oleh para pengasuh pesantren. Sebuah pesantren yang
tidak mewajibkan sholat jemaah dianggap bukan lagi pesantren yang
sebenarnya.
Para Kyai biasanya mengatakan bahwa praktik jama’ah ini mengajarkan
persaudaraan dan kebersamaan, yaitu nilai-nilai yang harus ditumbuhkan dalam
masyarakat Islam. Jika jemaah sekali dalam dalam sholat Jumat akan
membentuk masyarakat yang solid, maka berjemaah tiap hari akan memperkuat
tali persaudaraan. Di samping itu sholat jamaah juga mendidik model
kepemimpman. Jika mereka yang belakang sebagai makmum, melihat
pemimpinnya (imam) memuat kesalahan, mereka akan mengingatkannya sambil
berkata “Subhanallah” (segala puji bagi Allah), bukan protes, melainkan sebuah
peringatan. Di sisi lain jika imam kentut sehingga batal wudlunya, ia berhenti dan
memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengambil alih menjadi imam salat.
Dengan begitu sholat tidak batal, tetap berlangsung dan kekompakan jamaah tetapi
terlindungi. Dalam konteks politis, hal inii mendorong sinergi hubungan antara
pemimpin dengan yang dipmpin.

c. Keikhlasan dan Kesederhanaan
Nilai seperti ikhlas dan kesederhanaan diajarkan spontan dan hidup dalam
kebersamaan. Di kebanyakan pesantren, santri tidur di atas lantai dalam satu ruangan
yang mampu menampung 80 santri. Sebuah kamar yang dirasa cocok ontuk I-2 orang,
ternyata dihuni 6-8 orang. Semakin populer pesantren, semakin banyak ruangan dihuni
orang. Menu yang dimakan pun hanya sekedar nasi dan sayur-sayuran.
Lebih jauh, meskipun ada pengakuan hak milik prihadi, dalam praktiknya, hak
milik itu umum. Barang-barang yang sepele, seperti sandal dipakai secara bebas. Untuk
barang yang lain, jika tidak dipakai akan dipinjamkan bila diminta. Santri yang menolak
meminjamkan barang-barang tersebut akan mendapatkan sanksi ‘sosial’ dari kawankawannya.
Sebab, santri yang tidak ikut kebiasaan seperti ini akan mendapatkan ejekan
ataupun peringatan keras akan pentingnya persaudaraan lslam (ukhuwah islamiyah) dan
keikhlasan.
Dalam banyak hal, gaya hidup pesantren tidak banyak berubah dari waktu ke
waktu, lebih mengedepankan aspek kesederhanaan, mekipun kehidupan di luar
memberikan perubahan gaya hidup dan standar yang berbeda. Gaya hidup pesantren
cenderung asketis (pertapaan). Menurut salah seorang pengasuh pondok pesantren di
Jawa Timur bahwa gaya hidup asketis di pesantren akan mempersiapkan para santri untuk
menjadi kaya atau miskin.

d. Nilai Kemandirian
Nilai kemandirian diajarkan dengan cara santri mengurusi sendiri kebutuhankebutuhan
dasarnya. Ide esensial dari kemandirian sering diplesetkan, akar kata dari
kemandirian adalah kepanjangan dari “mandi sendiri”. Prinsip yang termuat dalam
kemandirian adalah bahwa menjaga dan mengurus diri sendiri tanpa harus dilayani dan
tidak menggantungkan pada yang lain adalah merupakan nilai yang penting. Di
pesantren tradisional, mandiri termanifestasikan dalam memasak; para santri memasak
untuk mereka sendiri atau setidaknya dalam kelompok kecil. Saat ini, selain kehilangan
banyak waktu mengaji, banyak pesantren yang memahami sistem cafeteroziz. Meskipun
begitu, santri masih banyak memiliki kesempatan belajar kemandirian dengan cara lain
seperti mencuci sendiri, menyetrika, dan menjaga kamar masing masing dan lain-lain.

e. Larangan melanggar aturan yang berlaku
Sebaliknya, absen dari mata pelajaran atau berjemaah, menyelinap keluar dari
lingkungan pesantren, nonton TV, mencuri, dan perbuatan-perbuatan lain yang dianggap
melawan aturan-aturan yang diterapkan pesantren adalah merupakan nilai-nilai
pesantren yang lain. Pelanggaran oleh santri akan berakibat pada teguran yang
berupa nasihat. Pengulangan pelanggaran akan mendapatkan teguran yang lebih
keras. Seorang ustaz menegaskan bahwa hukuman bagi pelanggaran kecil seperti
nonton TV adalah dipukul atau bahkan diminta untuk push-up di tempat
pembuangan kotoran. Jika pelanggaran serius, rambut santri akan dicukur
gundul, dengan cara diberi ‘pengumuman’ terlebih dahulu yang berarti akan
menghinakan santri tersebut. Santri yang suka menghina akan dipulangkan.
Biasanya, bentuk dan berat-ringannya hukuman terserah kebijakan kyai.

f. Nilai keteladanan
Untuk menanamkan nilai-niai tersebut, instruksi kepada santri harus
dibarengi pula dengan contoh yang baik. Untuk mengajar santrinya akan pentingnya
sholat jama’ah, seorang kyai harus/perlu menjadi imam salat. Karena
kyai dianggap sebagai waratsatul anbiya’, maka kyai menjadi teladan bagi santrinya
sehingga pesantren tidak saja mendidik pengetahuan agama, tetapi juga
moral yang baik.
Dalam hal ini, seorang kyai harus hidup di pondok sehingga beliau akan bisa
memberikan contoh pola hidup islami. Jika ia tidak memberi contoh seperti itu,
pendidikan pesantren hanyalah instruksi (pengajaran saja) dan bukan pendidikan
yang sejati. Beberapa pimpinan pesantren ada yang terlibat dalam dunia politik
sehingga mereka jarang berada di pondok.

g. Tasawuf merupakan inti etika di pesantren
Tasawuf (mistisisme) adalah inti pendidikan moral. Dia menjelaskan bahwa
dalam Islam dikenal adanya “segitiga” pokok-pokok ilmu tauhid, fikih (hukum
Islam),dan tasawuf. Masing-masing ilrnu ini memiliki kontribusi yang berbeda.
Tauhid mengatur dasar-dasar keimanan. Karena iman saja tidak hanya cukup
dengan ucapan sehingga memerlukan amal untuk mempertahannkannya, maka
fikih melengkapi kaum beriman dengan petunjuk-petunjuk tentang bagaimana
hidup secara benar, dan tasawuf berperan dalam menanamkan nilai-nilai moral
dan etika. lnti tasawuf adalah mempelajari moral dan etika.
Penggabungan sufisme dan etika mungkin bisa dilacak sebagai akibat
pengaruh yang kuat dari pemikir Islam, imam AI-Ghazali. Al-Ghazali terkenal
dengan mistisismenya yang tenang dan sederhana yang mampu menyeimbangkan
teologi dan tasawuf serta terkenal dengan karya tentang etikanya. Banyak
pesantren mengaitkan mistisisme dan etikanya dengan karya-karya al-Ghazali.

Tauhid (Keesaan Tuhan)

Fiqih (Hukum Islam)

Tasawuf (Mistisisme)

Ilmu-ilmu
Keislaman
Ibadah Formal,
Rukun Islam:
– Syahadat
– Shalat
– Zakat
– Puasa
– Haji

Aturan-aturan social:
– Perdagangan
– Pernikahan
– Warisan
– Pidana
– Ilmu Kenegaraan
– Perang dan
pertahanan

Kebenaran
Sejati:
-Hakikat
-Tarekat
-nontarekat

Etika:
-Kehidupan
– Setelah
Kehidupan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s